Tak dapat dipungkiri bahwa:
- bersikap karena dorongan emosi,
- menolak kebenaran karena faktor kebencian kepada penyampainya atau pihak tertentu,
- dan enggan meninggalkan kesalahan dan kebatilan karena gengsi adalah bagian dari hawa nafsu yang tercela nan menyesatkan.
Renungkan ayat berikut ini dengan mengharap Ridha Ilahi,
فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ
“Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. an-Nisa’: 135)
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H), seorang imam besar dalam bidang tafsir yang namanya sudah tidak asing lagi bagi kaum muslimin, menjelaskan maksud ayat tersebut dalam tafsirnya,
أي : فلا يحملنكم الهوى والعصبية وبغضة الناس إليكم، على ترك العدل في أموركم وشؤونكم، بل الزموا العدل على أي حال كان، كما قال تعالى وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“(Maksud ayat ini adalah) janganlah hawa nafsu, fanatisme, dan kebencian manusia kepada kalian mendorong kalian untuk meninggalkan sikap adil dalam segala urusan dan keadaan kalian. Bahkan tetaplah konsisten untuk bersikap adil dalam keadaan bagaimanapun, sebagaimana Firman Allah Ta’ala,
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Maidah: 8)
[Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (2/433)]
Pakar tafsir terkemuka Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (w. 1376 H) dalam kitab tafsir karyanya juga menjelaskan maksud ayat ke-135 surat an-Nisa’ di atas,
أي: فلا تتبعوا شهوات أنفسكم المعارضة للحق، فإنكم إن اتبعتموها عدلتم عن الصواب، ولم توفقوا للعدل، فإن الهوى إما أن يعمي بصيرة صاحبه حتى يرى الحق باطلا والباطل حقا، وإما أن يعرف الحق ويتركه لأجل هواه، فمن سلم من هوى نفسه وفق للحق وهدي إلى الصراط المستقيم
“(Makna ayat tersebut) adalah janganlah kalian mengikuti syahwat (hawa nafsu) diri-diri kalian yang menentang kebenaran. Sesungguhnya apabila kalian mengikuti syahwat tersebut, kalian bisa menyimpang dari kebenaran dan tidak diberi taufik untuk bersikap adil. Karena sesungguhnya hawa nafsu itu bisa membutakan mata hati pemiliknya, sehingga:
- ia melihat kebenaran sebagai kebatilan, sementara kebatilan dipandang sebagai kebenaran,
- dan bisa jadi pula ia mengetahui kebenaran, namun ia sengaja meninggalkannya karena mengikuti hawa nafsunya.
Maka barangsiapa yang selamat dari (kejahatan) hawa nafsunya, niscaya ia akan diberi taufik untuk berada di atas kebenaran dan diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
[Taisirul Karimir Rahman, hal. 209]
![]()